Senin, 30 November 2015

Sosialisasi Minggu 2

Duta Peduli Autis di SMP Negeri 108 dalam Penerapan Mata Kuliah Character Building bersama Teach For Indonesia














I. Bagian Pendahuluan
Kelas               :LD66
Dosen             :Lim Hendra (D3735)
Waktu             :Senin, 30 November 2015
Pukul              :14.00-16.00
Lokasi             :SMP Negeri 108,  Jl. Flamboyan No 53 Kel. Cengkareng Barat, Kec. Cengkareng, Kota Jakarta Barat
Jumlah siswa :42 anak
Hadir:
Ketua              :Mailin (1801377465)
Anggota          :1. Rifan Kalbuadi (1801433762)
                           2. Biyan R Jazzy(1801444482)
                           3. Tesalonika Kharisma (1801447830)

Anggota yang tidak hadir: Allam Abyan Putra, Kenny Viviana, Agatha Nikita Gibrael 
Foto Tim:
Tesalonika (kiri), Biyan (Tengah), Mailin (kanan)


Tesalonika (kanan), Rifan (Tengah), Mailin (kanan)


II. Bagian Isi
Pada bagian isi ini tidak ada banyak yang berubah dari minggu 1 karena materi ini sudah dipersiapkan sejak awal sehingga tidak diubah.

a.         Teori Autisme           
            Materi yang diberikan pada saat sosialisasi adalah pemahaman mengenai autisme. Autisme merupakan kelainan perkembangan system saraf pada seseorang yang kebanyakan terjadi karena faktor keturunan. Autis biasanya dapat dideteksi sejak umur 6 bulan. Autisme bukan suatu penyakit yang dapat ditularkan lewat udara, air liur ataupun darah.  Seseorang yang mengalami autism biasanya sulit untuk bersosialisasi dengan orang disekitarnya karena kelainan tersebut membuatnya tidak dapat membentuk hubungan sosial atau komunikasi yang normal.
            Gejala-gejala autisme adalah terjadinya gangguan terhadap:
§  Interaksi sosial
§  Komunikasi (bahasa dan bicara)
§  Perilaku dan emosi
§  Pola bermain
§  Gangguan motorik dan sensorik
§  Perkembangan terlambat atau tidak normal
Anak yang mengalami autism biasanya normal pada umur 1 tahun dan 2 tahun dalam kehidupannya. Sehingga membuat orangtua terlambat dalam menangani gejala autismenya.  Menurut DSM IV, autism dapat dilihat pada:
A. Interaksi Sosial (minimal 2):
1.      Tidak mampu menjalin interaksi sosial non verbal: kontak mata, ekspresi muka, posisi tubuh, gerak-gerik kurang tertuju
2.      Kesulitan bermain dengan teman sebaya
3.      Tidak ada empati, perilaku berbagi kesenangan/minat
4.      Kurang mampu mengadakan hubungan sosial dan emosional 2 arah
B. Komunikasi Sosial (minimal 1):
1.      Tidak/terlambat bicara, tidak berusaha berkomunikasi non verbal
2.      Bisa bicara tapi tidak untuk komunikasi/inisiasi, egosentris
3.      Bahasa aneh & diulang-ulang/stereotip
4.      Cara bermain kurang variatif/imajinatif, kurang imitasi social
C. Imaginasi, berpikir fleksibel dan bermain imaginatif (minimal 1):
1.      Mempertahankan 1 minat atau lebih dengan cara yang sangat khas dan berlebihan, baik intensitas dan fokusnya
2.      Terpaku pada suatu kegiatan ritualistik/rutinitas yang tidak berguna
3.      Ada gerakan-gerakan aneh yang khas dan berulang-ulang. Seringkali sangat terpukau pada bagian-bagian tertentu dari suatu benda

 Beberapa faktor penyebab autism, yaitu:
  •  Genetic susceptibility – different genes may be responsible in different families
  • Chromosome 7 – speech / language chromosome
  • Variety of problems in pregnancy at birth or even after birth


b.         Persiapan sosialisasi
            Sewaktu minggu 1 kami datang ke sekolahnya, kami sudah mengadakan janji dengan Bapak Rosyid bahwa kami akan datang setelah kami UTS. Akhirnya jatuh ditanggal 30 November 2015. Lebih mudah untuk kami kembali ke sekolah ini karena sebelumya sudah pernah datang kesana. Lalu, tim yang datang juga masih sama karena anggota lainnya sudah tidak peduli dengan kegiatan ini, maka dari itu hanya kami ber4 lagi yang kembali ke sekolah ini. Lalu kami diberikan kelas berbeda yaitu anak-anak kelas 7 oleh Bapak Rosyid. 

c.          Metode pembelajaran
            Kami menggunakkan cara pembelajaran classroom, dimana hanya berupa kelas-kelas saja yang kami sosialisasikan mengenai topic ini. Dari pantauan kami hal positifnya adalah anak-anak yang malu untuk berpendapat dapat memberikan pendapat mereka lebih leluasa karena ini kelas mereka dan mereka lebih mengenal satu sama lain dibandingkan digabungkan kelasnya. Hal negatifnya adalah hanya beberapa kelas saja yang mendapat sosialisasi ini karena tugas kami hanya untuk beberapa kelas sehingga membuat yang lainnya tidak mendapatkan sosialisasi kami.

III. Bagian Penutup

Kesimpulan:
Dari pertemuan sebelumnya kami melakukan banyak evaluasi, sehingga di pertemuan yang kali ini kali terlihat lebih siap dan tidak canggung didepan anak-anak. Walaupun tidak ada yang bersedia menjadi duta autis bagi sekolahnya, namun mereka sangat perhatian dan peduli terhadap sosialisasi yang kami lakukan.


LAMPIRAN





Tidak ada komentar:

Posting Komentar