Rabu, 11 November 2015

Sosialisasi Minggu 1

Duta Peduli Autis di SMP Negeri 108 dalam Penerapan Mata Kuliah Character Building bersama Teach For Indonesia
 





Kelas               :LD66
Dosen             :Lim Hendra (D3735)
Waktu             :Selasa, 10 November 2015
Pukul              :13.00-15.00
Lokasi             :SMP Negeri 108,  Jl. Flamboyan No 53 Kel. Cengkareng Barat, Kec. Cengkareng, Kota Jakarta Barat
Jumlah siswa  :38 anak
Hadir:
Ketua              :Mailin
Anggota          :1. Rifan Kalbuadi
                         2. Biyan R Jazzy
                         3. Tesalonika Kharisma
Anggota yang tidak hadir: Allam Abyan Putra, Kenny Viviana, Agatha Nikita Gibrael
Foto Tim        :
Biyan R Jazzy, Tesalonika Kharisma, Mailin, Rifan Kalbuadi

          
II. Bagian Isi
a.         Teori Autisme           
            Materi yang diberikan pada saat sosialisasi adalah pemahaman mengenai autisme. Autisme merupakan kelainan perkembangan system saraf pada seseorang yang kebanyakan terjadi karena faktor keturunan. Autis biasanya dapat dideteksi sejak umur 6 bulan. Autisme bukan suatu penyakit yang dapat ditularkan lewat udara, air liur ataupun darah.  Seseorang yang mengalami autism biasanya sulit untuk bersosialisasi dengan orang disekitarnya karena kelainan tersebut membuatnya tidak dapat membentuk hubungan sosial atau komunikasi yang normal.
            Gejala-gejala autisme adalah terjadinya gangguan terhadap:
§  Interaksi sosial
§  Komunikasi (bahasa dan bicara)
§  Perilaku dan emosi
§  Pola bermain
§  Gangguan motorik dan sensorik
§  Perkembangan terlambat atau tidak normal
Anak yang mengalami autism biasanya normal pada umur 1 tahun dan 2 tahun dalam kehidupannya. Sehingga membuat orangtua terlambat dalam menangani gejala autismenya.  Menurut DSM IV, autism dapat dilihat pada:
A. Interaksi Sosial (minimal 2):
1.      Tidak mampu menjalin interaksi sosial non verbal: kontak mata, ekspresi muka, posisi tubuh, gerak-gerik kurang tertuju
2.      Kesulitan bermain dengan teman sebaya
3.      Tidak ada empati, perilaku berbagi kesenangan/minat
4.      Kurang mampu mengadakan hubungan sosial dan emosional 2 arah
B. Komunikasi Sosial (minimal 1):
1.      Tidak/terlambat bicara, tidak berusaha berkomunikasi non verbal
2.      Bisa bicara tapi tidak untuk komunikasi/inisiasi, egosentris
3.      Bahasa aneh & diulang-ulang/stereotip
4.      Cara bermain kurang variatif/imajinatif, kurang imitasi social
C. Imaginasi, berpikir fleksibel dan bermain imaginatif (minimal 1):
1.      Mempertahankan 1 minat atau lebih dengan cara yang sangat khas dan berlebihan, baik intensitas dan fokusnya
2.      Terpaku pada suatu kegiatan ritualistik/rutinitas yang tidak berguna
3.      Ada gerakan-gerakan aneh yang khas dan berulang-ulang. Seringkali sangat terpukau pada bagian-bagian tertentu dari suatu benda

 Beberapa faktor penyebab autism, yaitu:
o    Genetic susceptibility – different genes may be responsible in different families
o    Chromosome 7 – speech / language chromosome
o    Variety of problems in pregnancy at birth or even after birth

b.         Persiapan sosialisasi
            1 Minggu sebelum kami menuju ke sekolah SMP Negeri 108 kami mengkoordinasikan dahulu waktu yang tepat untuk melakukan sosialisasi ini. Agar semua anggota dapat datang kami sudah memilih waktu yang jatuh pada hari Selasa, 10 November 2015. Semua sudah mneyetujui hari tersebut.  Dalam 1 minggu tersebut kami mempersiapkan materi yang akan di perbincangkan di kelas dan cara membuat anak-anak tertarik untuk peduli terhadap autism. Tidak mudah untuk mengajak generasi muda sekarang ini untuk ikut peduli terhadap acara-acara sosial seperti ini sehingga kamiingin membuat penyampaian yang menarik bagi mereka. Saat Mailin mencoba datang ke sekolah tersebut ternyata sekolahnya sedang di renovasi dan pindah ke sekolah didekatnya yaitu SMPN 249. Anak-anak yang bersekolah di SMP Negeri 108 menjadi masuk pukl 13.00 setelah anak-anak SMPN 249 pulang sekolah. Lalu Mailin  bertemu dengan Bapak Rosyid selaku guru dari SMPN 108 . Mailin meminta izin untuk melakukan kegiatan ini dan diizinkan. Mereka sepakat untuk melakukan kegiatan ini pada hari Selasa, 10 November 2015.

Namun pada hari-H nya, banyak anggota kelompok yang tidak memberi kabar lagi setelah menyetujui hari yang sudah dipilih. Allam salah satu kelompok kami dari awal kelas CB tidak terlihat datang lagi. Lalu Agatha Nikita juga tidak ada kabar lagi setelah perjanjian waktu tersebut. Sangat disayangkan untuk Kenny Viviana tidak dapat hadir karena sakit.   Walaupun kami dari jurusan yang sama namun kami memiliki perbedaan kelas sehingga perbedaan jadwal juga. Untungnya ada 1 hari dimana kami memiliki libur yang sama, yaitu pada hari selasa. Menurut kami, pembelajaran yang telah kami berikan dalam kelas adalah mencegah dan juga menasihati anak-anak agar tidak bercanda yang dapat menyakiti hati orang lain.  Tidaklah baik untuk menggunakkan kata “autis” untuk sebagai bahan candaan kepada seseorang.
c.          Metode pembelajaran
            Kami menggunakkan cara pembelajaran classroom, dimana hanya berupa kelas-kelas saja yang kami sosialisasikan mengenai topic ini. Dari pantauan kami hal positifnya adalah anak-anak yang malu untuk berpendapat dapat memberikan pendapat mereka lebih leluasa karena ini kelas mereka dan mereka lebih mengenal satu sama lain dibandingkan digabungkan kelasnya. Hal negatifnya adalah hanya beberapa kelas saja yang mendapat sosialisasi ini karena tugas kami hanya untuk beberapa kelas sehingga membuat yang lainnya tidak mendapatkan sosialisasi kami.


III. Bagian Penutup

Kesimpulan:
Dari kegiatan yang sudah kami lakukan , kami menjadi lebih memahami tentang autis tentunya. Saat kita lebih memahami lebih baik lagi jika kita juga mengajak orang-orang diluar sana untuk peduli terhadap autisme itu sendiri. Anak sekolah yang merupakan generasi penerus bangsa merupakan trget yang tepat untuk mensosialisasikan tentang autis tersebut. Banyak anak muda yang masih menggunakkan kata "autis"sebagai lelucon atau candaan. Hal yang dilakukan tersebut tidaklah  baik karena autis tersebut bisa dijadikan kata hinaan bagi penderita autis ataupun orangtua yang memiliki anak autis tersebut. Yang terakhir juga jika kita terus mensosialisasikan gerakan ini, diskriminasi yang dialami oleh orang-orang tersebut dapat berkurang . Lama kelamaan akan hilang juga. Sikap dan hak kita padahal sama di mata Tuhan.

Semoga dipertemuan selanjutnya kami dapat memeberikan materi yang lebih baik lagi dan mendapatkan anak-anak yang bersedia menjadi duta autis disekolahnya . Terimakasih.

Lampiran

Formulir evaluasi kelompok dan sekolah

Banner sekolah SMPN 108

SMPN 249 sebagai sekolah yang menampung SMP Negeri 108
Saat sosialisasi di kelas VIII 1
Flyer yang kami bagikan kepada anak-anak

Saat sosialisasi di kelas VII 2

Tidak ada komentar:

Posting Komentar