
I. Bagian Pendahuluan
Kelas :LD66
Dosen :Lim
Hendra (D3735)
Waktu :Senin, 30 November 2015
Pukul :14.00-16.00
Lokasi :SMP
Negeri 108, Jl. Flamboyan No 53 Kel. Cengkareng Barat, Kec. Cengkareng,
Kota Jakarta Barat
Jumlah siswa :42 anak
Hadir:
Ketua :Mailin (1801377465)
Anggota :1.
Rifan Kalbuadi ( 1801433762)
2. Biyan R Jazzy( 1801444482)
3. Tesalonika Kharisma (1801447830)
Anggota yang tidak hadir: Allam Abyan
Putra, Kenny Viviana, Agatha Nikita Gibrael
Foto Tim:
Foto Tim:
![]() |
| Tesalonika (kiri), Biyan (Tengah), Mailin (kanan) |
![]() |
| Tesalonika (kanan), Rifan (Tengah), Mailin (kanan) |
II. Bagian Isi
Pada bagian isi ini tidak ada banyak yang berubah dari minggu 1 karena materi ini sudah dipersiapkan sejak awal sehingga tidak diubah.
a. Teori
Autisme
Materi yang
diberikan pada saat sosialisasi adalah pemahaman mengenai autisme. Autisme
merupakan kelainan perkembangan system saraf pada seseorang yang kebanyakan
terjadi karena faktor keturunan. Autis biasanya dapat dideteksi sejak umur 6
bulan. Autisme bukan suatu penyakit yang dapat ditularkan lewat udara, air liur
ataupun darah. Seseorang yang mengalami
autism biasanya sulit untuk bersosialisasi dengan orang disekitarnya karena
kelainan tersebut membuatnya tidak dapat membentuk hubungan sosial atau
komunikasi yang normal.
Gejala-gejala
autisme adalah terjadinya gangguan terhadap:
§
Interaksi sosial
§ Komunikasi (bahasa dan bicara)
§ Perilaku dan emosi
§ Pola bermain
§ Gangguan motorik dan sensorik
§ Perkembangan terlambat atau tidak normal
Anak
yang mengalami autism biasanya normal pada umur 1 tahun dan 2 tahun dalam
kehidupannya. Sehingga membuat orangtua terlambat dalam menangani gejala
autismenya. Menurut DSM IV, autism dapat
dilihat pada:
A. Interaksi
Sosial (minimal 2):
1. Tidak mampu menjalin interaksi sosial non verbal: kontak
mata, ekspresi muka, posisi tubuh, gerak-gerik kurang tertuju
2. Kesulitan bermain dengan teman sebaya
3. Tidak ada empati, perilaku berbagi kesenangan/minat
4. Kurang mampu mengadakan hubungan sosial dan emosional 2 arah
B. Komunikasi
Sosial (minimal 1):
1. Tidak/terlambat bicara, tidak berusaha berkomunikasi non
verbal
2. Bisa bicara tapi tidak untuk komunikasi/inisiasi, egosentris
3. Bahasa aneh & diulang-ulang/stereotip
4. Cara bermain kurang variatif/imajinatif, kurang imitasi
social
C. Imaginasi,
berpikir fleksibel dan bermain imaginatif (minimal
1):
1. Mempertahankan 1 minat atau lebih dengan cara yang sangat
khas dan berlebihan, baik intensitas dan fokusnya
2. Terpaku pada suatu kegiatan ritualistik/rutinitas yang tidak
berguna
3. Ada gerakan-gerakan aneh yang khas dan berulang-ulang.
Seringkali sangat terpukau pada bagian-bagian tertentu dari suatu benda
Beberapa
faktor penyebab autism, yaitu:
- Genetic susceptibility – different genes may be responsible in different families
- Chromosome 7 – speech / language chromosome
- Variety of problems in pregnancy at birth or even after birth
b. Persiapan sosialisasi
Sewaktu minggu 1 kami datang ke sekolahnya, kami sudah mengadakan janji dengan Bapak Rosyid bahwa kami akan datang setelah kami UTS. Akhirnya jatuh ditanggal 30 November 2015. Lebih mudah untuk kami kembali ke sekolah ini karena sebelumya sudah pernah datang kesana. Lalu, tim yang datang juga masih sama karena anggota lainnya sudah tidak peduli dengan kegiatan ini, maka dari itu hanya kami ber4 lagi yang kembali ke sekolah ini. Lalu kami diberikan kelas berbeda yaitu anak-anak kelas 7 oleh Bapak Rosyid.
c. Metode pembelajaran
Kami menggunakkan cara pembelajaran classroom, dimana hanya berupa kelas-kelas saja yang kami sosialisasikan mengenai topic ini. Dari pantauan kami hal positifnya adalah anak-anak yang malu untuk berpendapat dapat memberikan pendapat mereka lebih leluasa karena ini kelas mereka dan mereka lebih mengenal satu sama lain dibandingkan digabungkan kelasnya. Hal negatifnya adalah hanya beberapa kelas saja yang mendapat sosialisasi ini karena tugas kami hanya untuk beberapa kelas sehingga membuat yang lainnya tidak mendapatkan sosialisasi kami.
III. Bagian Penutup
Kesimpulan:
Dari pertemuan sebelumnya kami melakukan banyak evaluasi, sehingga di pertemuan yang kali ini kali terlihat lebih siap dan tidak canggung didepan anak-anak. Walaupun tidak ada yang bersedia menjadi duta autis bagi sekolahnya, namun mereka sangat perhatian dan peduli terhadap sosialisasi yang kami lakukan.
















