Selasa, 15 Desember 2015

Sosialisasi Minggu 4

Duta Peduli Autisme di SMP PGRI 17 dalam Penerapan Mata Kuliah Character Building bersama Teach For Indonesia



I. Bagian Pendahuluan
Kelas               :LD66
Dosen             :Lim Hendra (D3735)
Waktu             :Rabu, 9 Desember 2015
Pukul               :14.00-16.00
Lokasi             :SMP PGRI 17 Jl. Petamburan II No.33, Kota Jakarta Pusat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 10260
Jumlah siswa :27 anak
Hadir:
Ketua              :Mailin (1801377465)
Anggota          :1. Tesalonika Kharisma (1801447830)
                           2. Kenny Viviana (1801446286)

Anggota yang tidak hadir: Allam Abyan Putra, Agatha Nikita Gibrael, Rifan Kalbuadi, Biyan R Jazzy 

Foto Tim:
Mailin (kiri), Kenny (Tengah), Tesalonika (kanan)

II. Bagian Isi

a.         Teori Autisme           
            Materi yang diberikan pada saat sosialisasi adalah pemahaman mengenai autisme. Autisme merupakan kelainan perkembangan system saraf pada seseorang yang kebanyakan terjadi karena faktor keturunan. Autis biasanya dapat dideteksi sejak umur 6 bulan. Autisme bukan suatu penyakit yang dapat ditularkan lewat udara, air liur ataupun darah.  Seseorang yang mengalami autism biasanya sulit untuk bersosialisasi dengan orang disekitarnya karena kelainan tersebut membuatnya tidak dapat membentuk hubungan sosial atau komunikasi yang normal.
            Gejala-gejala autisme adalah terjadinya gangguan terhadap:
§  Interaksi sosial
§  Komunikasi (bahasa dan bicara)
§  Perilaku dan emosi
§  Pola bermain
§  Gangguan motorik dan sensorik
§  Perkembangan terlambat atau tidak normal
Anak yang mengalami autism biasanya normal pada umur 1 tahun dan 2 tahun dalam kehidupannya. Sehingga membuat orangtua terlambat dalam menangani gejala autismenya.  Menurut DSM IV, autism dapat dilihat pada:
A. Interaksi Sosial (minimal 2):
  •     Tidak mampu menjalin interaksi sosial non verbal: kontak mata, ekspresi muka, posisi tubuh, gerak-gerik kurang tertuju
  •       Kesulitan bermain dengan teman sebaya
  •      Tidak ada empati, perilaku berbagi kesenangan/minat
  •         Kurang mampu mengadakan hubungan sosial dan emosional 2 arah
B. Komunikasi Sosial (minimal 1):
  •   Tidak/terlambat bicara, tidak berusaha berkomunikasi non verbal
  •    Bisa bicara tapi tidak untuk komunikasi/inisiasi, egosentris
  •   Bahasa aneh & diulang-ulang/stereotip
  •    Cara bermain kurang variatif/imajinatif, kurang imitasi social
C. Imaginasi, berpikir fleksibel dan bermain imaginatif (minimal 1):
  •  Mempertahankan 1 minat atau lebih dengan cara yang sangat khas dan berlebihan, baik intensitas dan fokusnya
  • Terpaku pada suatu kegiatan ritualistik/rutinitas yang tidak berguna
  •  Ada gerakan-gerakan aneh yang khas dan berulang-ulang. Seringkali sangat terpukau pada bagian-bagian tertentu dari suatu benda

 Beberapa faktor penyebab autism, yaitu:
  •  Genetic susceptibility – different genes may be responsible in different families
  • Chromosome 7 – speech / language chromosome
  • Variety of problems in pregnancy at birth or even after birth

        Lalu , setelah mengetahui basic ilmu dari autisme, kami langsung masuk me materi autisme bukanlah bahan candaan. Kami menanyakan kepada mereka bahwa penggunaan kata "autis" sebagai candaan bukanlah lelucon yang baik. Dari sharing perngalaman yang kita lakukan masih banyak dari anak-anak yang memakai kata "autis " sebagai bahan candaan. Padahal, kata "autis" tidak sepatutnya dijadikan bahan candaan. Bagaimana rasanya kekurangan yang dimiliki penderita autis dijadikan bahan candaan pada anak-anak lain? Ini merupakan hal yang harus direnungkan oleh anak-anak di sekolah PGRI 17
       B.  Persiapan Sosialisasi
        
             Setelah minggu lalu kami datang ke SMP PGRI 17, minggu ini kami kembali lagi ke sekolah ini untuk sosialisasi. Setelah sebelumnya kami mensosialisasikannya pada anak kelas  7, pada minggu ini kami datang dan mensosialisasikannya kepada anak-anak kelas 8. Tidak ada persiapan yang berlebih karena materi sudah benar-benar diluar kepala kami. Namun, disosisalisasi yang terakhir ini kami menyiapkan makanan kecil bagi anak-anak kami menyiapkan ini sebagai tanda terimakasih sudah mengikuti sosialisasi kami secara keseluruhan.

        C.   Metode pembelajaran

    Kami menggunakkan cara pembelajaran classroom, dimana hanya berupa kelas-kelas saja yang kami sosialisasikan mengenai topic ini. Dari pantauan kami hal positifnya adalah anak-anak yang malu untuk berpendapat dapat memberikan pendapat mereka lebih leluasa karena ini kelas mereka dan mereka lebih mengenal satu sama lain dibandingkan digabungkan kelasnya. Hal negatifnya adalah hanya beberapa kelas saja yang mendapat sosialisasi ini karena tugas kami hanya untuk beberapa kelas sehingga membuat yang lainnya tidak mendapatkan sosialisasi kami.

III. Bagian Penutup

Kesimpulan: Merupakan suatu kebanggaan bagi kami dengan sosialisasi ini, suatu pengalaman yang tidak akan pernah kami lupakan seumur hidup karena berbagi pengetahuan dengan anak-anak sangatlah berharga bai kami. Hanya ingin berterima kasih kepada seluruh SMP PGRI 17 yang memberikan izin untuk sosialisasi di sekolah mereka. Semoga sosialisasi kami yang bertemakan "Autism is not a Joke" dapat berguna bagi generasi kita selanjutnya

Lampiran Foto











Rabu, 09 Desember 2015

Sosialisasi Minggu 3

Duta Peduli Autisme di SMP PGRI 17 dalam Penerapan Mata Kuliah Character Building bersama Teach For Indonesia


I. Bagian Pendahuluan
Kelas               :LD66
Dosen             :Lim Hendra (D3735)
Waktu             :Kamis, 3 Desember 2015
Pukul              :14.00-16.00
Lokasi             :SMP PGRI 17 Jl. Petamburan II No.33, Kota Jakarta Pusat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 10260
Jumlah siswa :30 anak
Hadir:
Ketua              :Mailin (1801377465)
Anggota          :1. Tesalonika Kharisma (1801447830)
                                  2. Kenny Viviana (1801446286)

Anggota yang tidak hadir: Allam Abyan Putra, Agatha Nikita Gibrael, Rifan Kalbuadi, Biyan R Jazzy

Foto Tim  :

Mailin (kiri) , Kenny Viviana (tengah), Tesalonika Kharisma (kanan)
II. Bagian Isi

a.         Teori Autisme           
            Materi yang diberikan pada saat sosialisasi adalah pemahaman mengenai autisme. Autisme merupakan kelainan perkembangan system saraf pada seseorang yang kebanyakan terjadi karena faktor keturunan. Autis biasanya dapat dideteksi sejak umur 6 bulan. Autisme bukan suatu penyakit yang dapat ditularkan lewat udara, air liur ataupun darah.  Seseorang yang mengalami autism biasanya sulit untuk bersosialisasi dengan orang disekitarnya karena kelainan tersebut membuatnya tidak dapat membentuk hubungan sosial atau komunikasi yang normal.
            Gejala-gejala autisme adalah terjadinya gangguan terhadap:
§  Interaksi sosial
§  Komunikasi (bahasa dan bicara)
§  Perilaku dan emosi
§  Pola bermain
§  Gangguan motorik dan sensorik
§  Perkembangan terlambat atau tidak normal
Anak yang mengalami autism biasanya normal pada umur 1 tahun dan 2 tahun dalam kehidupannya. Sehingga membuat orangtua terlambat dalam menangani gejala autismenya.  Menurut DSM IV, autism dapat dilihat pada:
A. Interaksi Sosial (minimal 2):
  •     Tidak mampu menjalin interaksi sosial non verbal: kontak mata, ekspresi muka, posisi tubuh, gerak-gerik kurang tertuju
  •       Kesulitan bermain dengan teman sebaya
  •      Tidak ada empati, perilaku berbagi kesenangan/minat
  •         Kurang mampu mengadakan hubungan sosial dan emosional 2 arah
B. Komunikasi Sosial (minimal 1):
  •   Tidak/terlambat bicara, tidak berusaha berkomunikasi non verbal
  •    Bisa bicara tapi tidak untuk komunikasi/inisiasi, egosentris
  •   Bahasa aneh & diulang-ulang/stereotip
  •    Cara bermain kurang variatif/imajinatif, kurang imitasi social
C. Imaginasi, berpikir fleksibel dan bermain imaginatif (minimal 1):
  •  Mempertahankan 1 minat atau lebih dengan cara yang sangat khas dan berlebihan, baik intensitas dan fokusnya
  • Terpaku pada suatu kegiatan ritualistik/rutinitas yang tidak berguna
  •  Ada gerakan-gerakan aneh yang khas dan berulang-ulang. Seringkali sangat terpukau pada bagian-bagian tertentu dari suatu benda

 Beberapa faktor penyebab autism, yaitu:
  •  Genetic susceptibility – different genes may be responsible in different families
  • Chromosome 7 – speech / language chromosome
  • Variety of problems in pregnancy at birth or even after birth

        Lalu , setelah mengetahui basic ilmu dari autisme, kami langsung masuk me materi autisme bukanlah bahan candaan. Kami menanyakan kepada mereka bahwa penggunaan kata "autis" sebagai candaan bukanlah lelucon yang baik. Dari sharing perngalaman yang kita lakukan masih banyak dari anak-anak yang memakai kata "autis " sebagai bahan candaan. Padahal, kata "autis" tidak sepatutnya dijadikan bahan candaan. Bagaimana rasanya kekurangan yang dimiliki penderita autis dijadikan bahan candaan pada anak-anak lain? Ini merupakan hal yang harus direnungkan oleh anak-anak di sekolah PGRI 17


  B. Persiapan Sosialisasi
        
      Pada tanggal 2 Desember 2015, kami datang ke SMP PGRI 17 untuk meminta izin sosialisasi dengan menyerahkan berkas-berkas. Kami ingin pada hari itu juga kami sudah sosialisasi, namun karena kepala sekolah tidak ada ditempat, maka dari itu kami harus datang kembali besok untuk mendapat persetujuan dari sekolah. Keesokan harinya tanggal 3 Desember, kami kembali dan bertemu dengan kepala sekolah. Akhirnya kami mendapatkan izin dan langsung sosialisasi pada hari itu juga.

  C.Metode pembelajaran

Kami menggunakkan cara pembelajaran classroom, dimana hanya berupa kelas-kelas saja yang kami sosialisasikan mengenai topic ini. Dari pantauan kami hal positifnya adalah anak-anak yang malu untuk berpendapat dapat memberikan pendapat mereka lebih leluasa karena ini kelas mereka dan mereka lebih mengenal satu sama lain dibandingkan digabungkan kelasnya. Hal negatifnya adalah hanya beberapa kelas saja yang mendapat sosialisasi ini karena tugas kami hanya untuk beberapa kelas sehingga membuat yang lainnya tidak mendapatkan sosialisasi kami.

III. Bagian Penutup

Kesimpulan:
Sebenarnya kepedulian terhadap autisme masih kurang dikalangan anak-anak smp dari evaluasi yang kami lakukan. Anak-anak condong tidak terlalu memikirkan autisme, mereka justru sangat menyukai penggunaan kata-kata "autis sebagai candaan. Sosialisasi yang kami lakukan merupakan salah satu alternatif penegetahuan mengenai autisme itu sendiri. Sosialisasi ini sangat bermanfaat sekali karena anak-anak jadi harus berpikir 2 kali untuk menggunakkan kata "autis" as a joke. 

Lampiran